Survei Perilaku Konsumen Saat Menjelang Pesta Diskon Online

Survei Perilaku Konsumen Saat Menjelang Pesta Diskon Online

Survei Perilaku Konsumen Saat Menjelang Pesta Diskon Online – Promo yang ditawarkan dalam ajang diskon kali ini tak tanggung-tanggung, mulai dari diskon 50 persen setiap hari masa promo, hingga gratis ongkir tanpa minimum pembelian. Banyak pihak yang mengatakan event promo seperti ini bisa menjadi ajang para penjual untuk melakukan modus penipuan dengan memasang harga lebih tinggi sebelum dipotong diskon.

Animo masyarakat dalam menyambut momen belanja 2021, khususnya online, masih cukup besar. Hal ini juga tercermin dari peningkatan pembicaraan di media sosial terkait momen belanja, salah satunya Twitter. Platform media sosial itu mencatat pembicaraan seputar belanja di Twitter meningkat hingga 175 persen per Juni 2021. Berdasarkan survei yang dilakukan Twitter, perilaku belanja online para pengguna platform tersebut meningkat 38 persen selama pandemik COVID-19.

Bahkan, 25 persen konsumen akan tetap berbelanja online meski toko-toko offline telah dibuka kembali. Menjelang pesta diskon online, Twitter mencatat konsumen banyak melakukan pencarian dan membicarakan tentang brand, rekomendasi produk, best deal, dan diskon di platform tersebut.

1. Terbiasa belanja online, konsumen pasti menantikan pesta diskon
Tips Berbelanja Online di Masa Pandemi Covid-19

Pandemik COVID-19 membuat kebiasaan belanja masyarakat beralih dari offline ke online. Selama hampir 1,5 tahun pandemik, masyarakat pun sudah terbiasa belanja online.

Sebanyak 23 persen konsumen yang setia berbelanja online mengatakan berbelanja online memberikan mereka pengalaman yang sama dengan belanja di toko offline. Sementara itu, sebanyak 25 konsumen di Twitter mengatakan mereka akan terus berbelanja online, bahkan setelah toko offline dibuka.

Oleh sebab itu, momen belanja online atau pesta diskon sangat dinantikan oleh para konsumen. Selain itu, Twitter juga mencatat beberapa produk yang ingin dibeli konsumen menjelang pesta diskon, yakni perawatan pribadi (50 persen), pakaian atau alas kaki (49 persen), produk teknologi (33 persen), kebutuhan sehari-hari (22 persen), peralatan rumah tangga (21 persen), obat dan suplemen (14 persen), dan produk asuransi (2 persen).

2. Ada sentimen positif pada kondisi keuangan konsumen
2 Alasan Orang Indonesia Suka Belanja Online - Bisnis Liputan6.com

Twitter juga melihat adanya sentimen positif pada kondisi keuangan konsumen (23 persen) yang berdampak pada kebiasaan mereka berbelanja online. Sejalan dengan itu, sebanyak 86 persen pengguna Twitter berbelanja online dalam 6 bulan terakhir, di mana 29 persen adalah pembeli setia.

Kebiasaan tersebut membuat 70 persen pembeli online di Twitter di Indonesia mencari produk/toko baru di ranah online. Hal ini membuka peluang yang lebih luas bagi brand untuk meluncurkan produk dan terhubung dengan audiens mereka.

3. Konsumen berinteraksi dengan iklan/informasi dan juga saling berbagi rekomendasi produk/brand
Gokil, Bocah 6 Tahun Ini Nggak Sengaja Belanja Online Barang Mewah

Para konsumen Indonesia ternyata juga sangat reseptif dan senang berinteraksi dengan konten terkait belanja online yang mereka lihat di Twitter, meskipun konten tersebut berupa iklan.

Para konsumen juga kerap berdiskusi dan berbagi informasi mengenai pembelian mereka di Twitter. Sebanyak 31 pengguna Twitter mengatakan ulasan di Twitter membantu konsumen memutuskan apa yang akan dibeli.

4. Pembahasan produk di Twitter mendorong konsumen untuk berbelanja

Intip Potensi Dagang Online Lewat Twitter : Okezone Economy

Pembahasan atau diskusi suatu produk di Twitter, juga rekomendasi produk ternyata mendorong konsumen untuk berbelanja.

Berdasarkan hasil survei, 51,3 persen pengguna cenderung membeli produk saat ada ulasan dari konsumen lain. Sebanyak 37,4 persen pengguna Twitter di Indonesia cenderung membeli produk ketika ada banyak ‘suka’ atau komentar bagus.

5. Animo knsumen berbelanja dongkrak penjualan
Twitter Ungkap Tren Pengguna Tentang Belanja Online - Tekno Liputan6.com

Berdasarkan hasil survei, pertumbuhan orang-orang yang membicarakan brand di Twitter 1,8x lebih cepat, dan jumlah orang yang membicarakan brand bertambah 2 kali lipat.

Ternyata, percakapan mengenai brand di Twitter juga dapat menghasilkan peningkatan penjualan sebesar 3 persen.

Adapun tahun lalu, even 11.11 secara global telah membubukan 11 juta transaksi dalam 1 hari, atau tumbuh 4,5 kali lipat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Dalam satu menit, platform tersebut dapat menjual 58 barang di event yang kerap disebut dengan Singles Day ini. “Produk kecantikan, HP dan aksesoris, serta pakaian wanita jadi tiga produk yang paling laku tahun kemarin,” ujar Handika.