Tips Smart Cara Mengelola THR di Tengah Pandemik COVID-19

Tips Smart Cara Mengelola THR di Tengah Pandemik COVID-19

Tips Smart Cara Mengelola THR di Tengah Pandemik COVID-19COVID-19 pandemi , juga dikenal sebagai pandemi coronavirus , adalah berkelanjutan pandemi global dari penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh akut sindrom pernafasan coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pandemik COVID-19 telah memukul berbagai sektor perekonomian. Bahkan, data Kementerian Ketenagakerjaan menyebut sebanyak 1,4 juta pekerja formal dirumahkan dan di-PHK imbas COVID-19. Oleh sebab itu, apabila kamu masih berkesempatan menerima uang tunjangan hari raya (THR), harus digunakan dengan bijak.

Tunjangan hari raya (disingkat THR) adalah pendapatan nonupah yang wajib dibayarkan pemberi kerja kepada pekerja atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan di Indonesia. Pertama-tama tentu kamu harus bilang terima kasih ke perusahaan. Ini berdasarkan logika saja, biasanya kan THR dipakai buat mudik, buat buka puasa bersama, belanja baju Dikutip dari Live Chat Live22 dan kue-kue, atau kasih uang buat keponakan dan orang tua.

Ini dia tiga tips pengelolaan uang THR secara bijak. Apa saja itu?

1. Alihkan dana mudik untuk dana darurat

Menurut Melvin, uang THR biasanya dimanfaatkan para pekerja untuk mudik. Namun, karena tahun ini tak bisa mudik, ia menyarankan untuk mengalihkan sebagian anggaran mudik untuk dana darurat. Pengumpulan dana darurat pun bisa disesuaikan dengan rata-rata pengeluaran bulanan.

“Untuk pekerja single butuh dana darurat minimal 6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya penghasilan dia Rp5 juta per bulan dan pengeluaran Rp3 juta per bulan, maka dia butuh Rp18 juta. Sementara, untuk pekerja yang sudah berkeluarga bisa 12 kali pengeluaran bulanan. Kalau tanggungannya banyak, dana darurat yang dibutuhkan lebih besar lagi,” ujarnya.

Melvin mengatakan, mengumpulkan dana darurat membutuhkan perjuangan. Oleh sebab itu, saat menerima THR di tengah COVID-19 harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Percayalah buat orang yang memiliki dana darurat yang cukup dalam kondisi seperti ini gak akan panik dan bisa berpikir jernih. Dia bisa cari peluang untuk tambahan income, misal jualan jamu,” kata Melvin.

2. Jangan lupakan donasi
Pembagian sembako kepada warga sebagai hasil menjaga tutupan hutan di kawasan Bujang Raba Kabupaten Bungo, Jambi/IDN Times/Dokumentasi KKI Warsi

Selain itu, lanjut Melvin, jangan lupa untuk berdonasi sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang didapatkan. Donasi bisa dalam bentuk zakat, pengumpulan dana sosial, atau berbagi sembako untuk orang yang membutuhkan.

“Jadi kita juga bisa survive bareng-bareng di tengah kondisi seperti ini,” ungkapnya.

3. Memiliki asuransi kesehatan itu wajib

Di tengah wabah COVID-19 yang bisa menyerang siapa saja, memiliki asuransi kesehatan adalah hal yang wajib. Melvin menyebut, ada beberapa asuransi yang memberikan diskon bahkan Rp0 selama masa promosi. Tugas kita adalah mengumpulkan informasi tersebut.

“Yang perlu kita lakukan ialah harus cari asuransi yang paling cocok. Proteksi itu penting. Kalau amit-amit rumah sakit rujukan COVID-19 pemerintah itu penuh, sehingga ketika kita terpaksa dirujuk ke rumah sakit swasta, kita bisa tenanglah karena ada asuransi yang bayarin,” katanya.