Investasi Reksadana Sekarang Bertambah Diminati Millennial

Investasi Reksadana Sekarang Bertambah Diminati Millennial

Investasi Reksadana Sekarang Bertambah Diminati MillennialAMII dibentuk untuk mengakomodasi kepentingan bersama para Manajer Investasi yang bertujuan untuk mendorong dan mengembangkan industri pengelolaan investasi di Indonesia. Saat ini AMII telah beranggotakan 92 perusahaan Manajer Investasi dari total 97 Manajer Investasi yang terdaftar pada OJK. Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), sekaligus Presiden Direktur Manulife Asset Management (MAMI) mengatakan minat investasi generasi millennial terus berkembang sejak masa pandemik COVID-19. Hal itu tercermin dari dominannya generasi millennial pada investasi reksadana.

Sementara untuk kelompok investor usia 31-40 tahun justru menurun dari 24,4 persen di 2019 jadi 22,5 persen di 2020.

“Berikutnya untuk usia 41-50 tahun turun dari 16,4 persen jadi 11,9 persen, Dilansir dari IDN Poker Versi Lawas serta usia 51-60 tahun menyusut dari 9,6 persen jadi tinggal 6,5 persen,” papar Afifa dalam keterangan tertulis, Rabu (2/6/2021).

1. Millennial mulai paham pentingnya investasi untuk masa depan

Afifa mengatakan naiknya investor millennial adalah likuiditas yang berlebih karena adanya pembatasan aktivitas konsumtif seperti hangout di kafe ataupun traveling. Dengan dana melimpah dan berbekal nyali khas anak muda, para milenial berani mencoba hal baru, salah satunya investasi.

“Untuk para investor pemula, sejatinya instrumen investasi reksadana adalah tempat kick-start yang tepat untuk berinvestasi. Terlebih kini dengan beragam fitur keren dalam platform digital, justru semakin memudahkan dan lebih mendisiplinkan nasabah milenial untuk rutin berinvestasi,” paparnya.

Sementara itu, CEO PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) Sigit Kouwagam menilai kenaikan investor millennial ini karena banyak dari mereka yang makin paham tujuannya untuk masa depan. Ada yang memberi nama tabungan reksadana untuk biaya nikah, beli rumah, ibadah haji dan bahkan tabungan reksadana untuk pensiun dini di usia muda.

“Dari tujuan investasi yang berbeda beda ini, mereka lalu mengoleksi aset reksadana yang relevan. Misalnya mereka beli produk reksadana pasar uang untuk target jangka pendek dan memperbanyak reksadana saham untuk mewujudkan mimpi jangka panjang,” ujar Sigit.

2. Millennial butuh vitamin edukasi biar tetap berinvestasi

Lebih lanjut, Afifa menilai millennial butuh vitamin edukasi yang cukup dalam berinvestasi, khususnya untuk memitigasi risiko apa saja yang akan dihadapi nanti. Sehingga mereka dapat berinvestasi secara benar dengan memiliki kemampuan kalkulasi risiko yang memadai.

Praktisi Financial Planner Eko Endarto selalu mengingatkan para millennial yang berpenghasilan rutin, akan lebih bagus bila menerapkan model berinvestasi dengan metode nabung cicil tiap bulan.

“Karena dengan nabung cicil, risiko menjadi terukur. Terutama bagi yang ada penghasilan rutin. Sisihkan saja dari penghasilan minimal 10 persen dari penghasilan,” ujar Eko.

3. Data investor millenials Bibit tumbuh signifikan

Kenaikan jumlah investor millennial dirasakan oleh Bibit. CEO Bibit, Sigit mengatakan pertumbuhan jumlah investor dari kalangan millennial selama pandemik sangat fantastis. Hingga akhir 2020, Bibit mencatat ada satu juta pengguna aplikasi di bawah usia 35 tahun. Jumlah ini melonjak 370 persen sepanjang periode tahun lalu.

Lebih lanjut, kata Sigit, dari awalnya hanya sekedar coba coba, para investor millennial mulai menjadikan investasi di reksadana sebagai suatu kebiasaan baru.

“Mereka bukan hanya asal rutin menabung reksadana setiap bulan, tapi juga memiliki target investasi yang jelas dan spesifik. Ini budaya baru yang harus terus dijaga api semangatnya dengan lebih sering memberikan edukasi,” kata Sigit.