Inilah Kisah Inspiratif Ivan Tandyo Pendiri Navanti Holdings

Inilah Kisah Inspiratif Ivan Tandyo Pendiri Navanti Holdings

Inilah Kisah Inspiratif Ivan Tandyo Pendiri Navanti Holdings – Necis, klimis, berkumis. Ivan Tandyo dengan langkah mantap memasuki ruangan dan memberi para tamunya jabat tangan hangat. Mereka berada di The 11th, bakal coworking space dan inkubator bisnis di Collins Street Tower, Melbourne, Australia. The 11th berada di bawah naungan Navanti Holdings, perusahaan investasi yang bergerak di ragam industri seperti properti, manufaktur, furnitur, bisnis kreatif, jasa, percetakan, hingga tech startup.

Navanti berbasis di Melbourne, tersebar di 14 negara, dan mengembangkan sayap dengan agresif di Australia dan Asia. Perusahaan investasi Navanti Holdings, yang didirikan pada 2001 oleh pemuda Indonesia bernama Ivan Tandyo, kini telah menjadi bisnis internasional besar, memiliki lebih dari 25 anak perusahaan yang berbeda.

Perusahaan investasi ini bahkan berperan penting dalam mempererat hubungan investasi Deposit IDN Poker77 antara Australia dan Indonesia. Namun siapa sangka, pendiri dari perusahaan yang memiliki portofolio di sektor manufaktur, kreatif, properti, teknologi, perdagangan dan jasa ini pernah bangkrut sebelum akhirnya sukses mendirikan perusahaan bertaraf internasional di Australia.

1. Apa itu Navanti Holdings?
Pernah Bangkrut, Ini Kisah Ivan Tandyo Bangun Bisnis dari Nol

Kita sebenarnya investment company. Kita sudah berinvestasi di 14 tahun terakhir. Kita kebanyakan portfolio di company property. Kalau di property kita hulu ke hilir, dari real estateconsultancy, sampai financing. Terus kita developer juga.

Di sini kita bangun townhouses complexes, terus sampai asset management juga kita kerjain, kita maintain 3 ribu aset sekarang di sini di Australia. Terus juga kita sampai interior designnya, renovation, sampai ke sekarang ke cleaning service-nya. Sampai semuanya, deh. Kalau dari properti kita memang sudah menguasai sampai ke property technology-nya juga, kita masukin ke startup juga.

Kita punya agency. Kita ada delapan kantor di Indonesia dan di Australia. Kita fokus di asset management dan juga bantu orang-orang Indonesia untuk berinvestasi di Australia. Jadi sekarang kita running incubator. Jadi setelah kita udah punya portfolio yang cukup banyak, kita membangun inkubator sendiri untuk membangun startup-startup baru atau bisnis-bisnis SME yang baru yang kita beri nama 11th Space.

2. Apa yang dikerjakan 11th Space?
Pernah Bangkrut, Ini Kisah Ivan Tandyo Bangun Bisnis dari Nol

11th Space kita ada di Jakarta dan ada di Australia. Ini juga rumahnya IDN Australia (Diaspora Indonesia di Australia), juga bergabung bersama kantor kita ini. Nah ini tempat penggodokan bisnis. Tiap tahun kita rilis enam bisnis baru. Kita juga bikin program inkubator buat mereka, kita juga siapkan pendidikan buat mereka, program-program. Kita juga ada F&B inkubator juga di Indonesia, bekerjasama dengan pemerintah juga, dengan Smesco dan beberapa departemen lainnya.

Dari 11th Space ini kita berharap kita bisa ngebantu hubungan antara Australia juga. Jadi kalau orang Indonesia yang buka bisnisnya di Australia kita bisa bantu untuk ekspansi secara efektif, dan juga perusahaan-perusahaan Australia yang mau expand ke Indonesia kita bisa bantu melalui 11th Spaces di Jakarta.

Kita juga sekarang ada coding house untuk startup teknologi kita di Vietnam. Kita juga punya satu startup teknologi di properti juga ada di Singapura. Itu sekarang jadi salah satu proptech terbesar di industrinya. Gede banget, manage sekitar 400 condominium buildings.

Jadi kita setiap tahun coba mendidik itu menjadi sebuah role model. Kita bantuin orang-orang Indonesia terutama, atau semua entrepreneur yang mau dibantu untuk bisa mencapai sukses yang pernah kita udah alamin.

Jadi sekarang kita bantuin bisnis-bisnis itu bukan cuman yang teknologi, tapi juga bisnis-bisnis SME. Karena kita berawal dari bisnis yang istilahnya kita mulainya juga dari susah, dari nol, jadi kita berani masuk investasi, masuk di saat mereka masih kecil. Kalau di teknologi kita bilang kita masuk di seed funding.

3. Bagaimana perjalanan mendirikan semua bisnis ini?
Pernah Bangkrut, Ini Kisah Ivan Tandyo Bangun Bisnis dari Nol

Dulu saya student. Terus banyak orang ngomong, “Wah udah pulang aja. Nggak akan bisalah di sana.” Apalagi jaman saya dulu awalnya masih sedikit yang teman-teman yang berusaha di sini.

Akhirnya saya nyoba, bener saya selama itu masuk F&B bikin restoran, beberapa sampai ada tiga café juga. Tapi habis itu saya expand ngaco ya, karena saya nggak punya mental segala macam, habis bangkrut. Ludes rata ama tanah dan saya utang sama orang banyak sekali. Akhirnya saya selama bulan berikutnya cuma kerja untuk bisa membayar utang itu.

Jadi dari sana gimana lagi saya rebound, kan? Dua tahun saya bener-bener kerjanya cuma bayar utang terus. Akhirnya dengan tidak punya capital, saya cuma ber-ide saja. Akhirnya saya coba bangkit dan saya bangun sebuah agensi. Terus baru pelan-pelan kita dari agensi yang satu ini kita baru mulai captive bisnis-bisnis yang lainnya.

Nah kebetulan waktu itu bisnis agensi ini sukses banget. Pas timingnya pas banget. Pasa saya lihat orang Indonesia sedang mencari opportunity untuk bisa berinvestasi di Australia. Saya sediakan wadahnya, dan itu yang menjadi jawaban. Akhirnya dari sana kita mulai membangun suksesnya. Empat belas tahun kemudian, inilah yang terjadi.

4. Berapa modal yang dikeluarkan untuk bisnis ini?
Mencari Modal Usaha? Berikut Cara Mudah Mendapatkannya

Saya waktu itu pernah ke Bantar Gebang, itu tempat pembuangan sampah di Indonesia ya. Ada beberapa anak yang kita support, kita sponsor di sana dan kita datang ke sana untuk berkati mereka dan saya diundang untuk bicara di antara mereka. Pertanyaan yang sama dari mereka, ada 200 anak waktu itu yang datang dari sekolahan itu. Ini anak-anak yang kurang mampu semua.

Semua pada bilang, “Tapi gimana caranya kalau saya nggak punya modal?” dan saya di dalam perjalanan hidup saya membuktikan bahwa modal bukan segala-galanya dan ingat saya bangkit jadi seperti ini tuh setelah saya hilang semuanya. Waktu uang saya udah nggak ada, dan saya started sebuah bisnis yang benar-benar tidak membutuhkan modal yang sangat banyak. Justru bisnis yang modalnya paling kecil ini menjadi sebuah benih dari bisnis yang menguntungkan.

Dulu saya buka restoran, ngeluarin uang yang besar, akhirnya ujung-ujungnya habis juga. Jadi uang itu bukan segala-galanya. Menurut saya di tengah kesusahan itu kreativitas itu justru akan keluar, dan kreativitas itu harganya jauh lebih berharga dan kepercayaan orang itu yang bisa kamu bangun, itu jauh lebih berharga dari uang yang ada di tanganmu.

Di perusahaan itu, Ivan duduk sebagai Chief Executive Officer (CEO). Ia bukan warga Australia. Ia orang Indonesia―yang pernah dropout dari kampus saking bengalnya, dan sempat bangkrut sampai punya timbunan utang.
Tapi kini, jejak hitam masa lalu itu sama sekali tak terlihat pada licin jas hitam yang ia kenakan. Dari kepala sampai kaki, Ivan menguarkan aroma kesuksesan.