Fakta-fakta Menarik Tentang Perjalanan Bisnis Holywings

Fakta-fakta Menarik Tentang Perjalanan Bisnis Holywings

Fakta-fakta Menarik Tentang Perjalanan Bisnis Holywings – Bar sekaligus tempat hiburan malam, Holywings tengah menjadi sorotan setelah salah satu cabangnya di Kemang, Jakarta Selatan mendadak viral setelah video razia protokol kesehatan beredar di media sosial. Holywing menjadi sorotan di tengah pemberlakuan PPKM. Tak pelak, Holywings akhirnya ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dan dikenakan sanksi berupa denda sebesar Rp 50 juta.

Holywings adalah sebuah usaha yang bergerak dalam bidang food and beverage dan didirikan tahun 2014 oleh PT Aneka Bintang Gading. Dalam video tersebut, kerumunan jelas terjadi di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah sebagai imbas dari pandemik COVID-19.

Publik pun banyak yang menyayangkan kejadian ini mengingat Holywings merupakan salah satu tempat nongkrong favorit anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Berikut ini fakta-fakta menarik tentang Holywings yang dirangkum IDN Times dari berbagai sumber.

1. Berdiri sejak 2014
4 Fakta Perjalanan Bisnis Holywings, Awalnya Kedai Nasi Goreng

Mengutip dari situs resminya, Holywings berdiri pada 2014 dan didirikan oleh sebuah perusahaan bernama PT Aneka Bintang Gading. Perusahaan tersebut diketahui memiliki tiga produk, yakni Holywings Bar, Holywings Club, dan Holywings Restaurant.

Bentuk fisik Holywings akhirnya berdiri secara resmi pada 2015 silam. Holywings kini telah memiliki cabang di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Serpong, Surabaya, Medan, dan Makassar.

2. Cikal bakal Holywings merupakan kedai nasi goreng
4 Fakta Perjalanan Bisnis Holywings, Awalnya Kedai Nasi Goreng

Co-Founder Holywings, Ivan Tanjaya bercerita tentang awal mula dia dan keempat rekannya mendirikan Holywings dalam program ‘MICAN’ yang tayang di YouTube resmi Holywings. Ivan sendiri sebelumnya sempat menjalankan banyak bisnis mulai dari menjadi makelar sewa properti ketika kuliah di Beijing, jual beli Polaroid, hingga menjadi distributor mainan.

Namun, sayangnya kedai nasi gorengnya tersebut hanya bertahan selama tiga bulan. Ivan menyatakan dari segi bisnis, kedainya tersebut gagal untuk bisa dikembangkan.

“Bulan pertama misal Rp100 juta nih, bulan kedua 70, bulan ketiga 50. Langsung kita langkah seribu, makanya ada si Jeki, Marvin, sama Kevin (tiga founder Holywings lainnya),” ujar dia.

3. Ide bisnis Holywings berasal dari sebuah bar di Beijing
4 Fakta Perjalanan Bisnis Holywings, Awalnya Kedai Nasi Goreng

Setelah gagal dengan kedai nasi gorengnya, Ivan lantas berdiskusi dengan Eka untuk mengubah konsep bisnis yang mau mereka jalani. Dari diskusi tersebut, Ivan mendapatkan konsep yang sesuai dengan apa yang dipelajarinya di Beijing, China. Konsep tersebut adalah dengan menggabungkan minum sambil makan dan ditemani live music.

“Ada satu tempat yang sebenarnya mungkin gue copy ya, namanya Helen’s di Beijing. Ini live music di China dan gue lumayan sering ke sana karena klab malam mahal kan, Helen’s murah,” kata Ivan.

“Chicken wings-nya ini adalah chicken wings Kedai Opa yang gue suka banget dan sekarang nama menunya di Holywings itu kenapa ada nama menu Grandpa, Grandpa Fried Rice dan Grandpa Chicken Wings yang which is itu merupakan menunya Kedai Opa,” kata dia.

4. Nama Holywings terinspirasi dari Holycow
4 Fakta Perjalanan Bisnis Holywings, Awalnya Kedai Nasi Goreng

Salah satu fakta mengejutkan yang disampaikan Ivan adalah terkait penamaan Holywings. Lulusan Raffles University Beijing tersebut mengakui bahwa nama Holywings terinspirasi dari restoran steak Holycow.

“2015 itu gila, Holycow buka di manapun ramai, full terus keluar Holycrab dan ‘Holy Holy’ lainnya. Gue bilang udahlah gue kasih nama Holywings nih, at least orang datang dulu dan kejadian,” kata Ivan.

Ivan menambahkan, kombinasi sayap ayam dan bir yang dijual dengan harga murah menjadi faktor penarik massa untuk datang ke Holywings.

“Sebenarnya di Helen’s itu nggak setiap hari ada live music, cuma tiga hari di Rabu, Jumat, dan Sabtu, tiap tiap tiga hari itu dia ramai. Hari biasa kalau gak ada live band dia mati. Jadi gue bilang yaudah kita coba setiap hari live music, hidup apa nggak nih,” kata Ivan.

Kendati demikian, Ivan mengaku kehadiran penampilan musik langsung belum bisa mendongkrak bisnis Holywings. Konsumen yang datang hanya sebatas makan, minum, dan ngobrol kemudian pulang.